Lahirnya Sanke: Dari Mutasi yang Terbuang Menjadi Mahakarya Sanshoku (Tiga Warna)
Di dalam dunia apresiasi Nishikigoi, keindahan seringkali lahir dari sebuah ketidaksengajaan alam. Salah satu bukti nyata dari keajaiban mutasi ini adalah lahirnya varietas Taisho Sanshoku, atau yang di kalangan pecinta Koi lebih populer dengan sebutan singkat Sanke.
Bagi para pehobi Koi, perpaduan tiga warna : merah, putih, dan hitam pada Sanke selalu memancarkan keanggunan. Namun, tahukah Anda bahwa corak hitam yang menawan ini dulunya pernah dianggap sebagai sebuah "kecacatan"?Mutasi yang Dianggap "Mengotori" Genetik Sejarah awal mula lahirnya Sanke sering diceritakan sebagai sebuah penemuan yang tidak disengaja dari varietas Kohaku. Pada awalnya, para pembudidaya Koi sangat mengagungkan kemurnian dua warna pada Kohaku (merah dan putih). Suatu ketika, alam memberikan mutasi genetik: anakan Kohaku yang menetas ternyata memunculkan bercak-bercak hitam (sumi) di punggungnya.
Pada masa itu, alih-alih dianggap indah, bercak hitam tersebut justru dianggap mengotori genetik murni Kohaku. Hitam dinilai merusak keseimbangan warna salju dan merah pekat yang menjadi standar keindahan. Akibatnya, anakan Koi bermutasi ini seringkali langsung dimusnahkan atau disingkirkan pada saat proses seleksi ketat (culling).
Sampai pada suatu waktu, ada seorang petani Koi yang merasa sayang untuk membuang mutasi tersebut. Didorong oleh rasa penasaran, ia sengaja memelihara dan membesarkan Koi "cacat" ini. Siapa sangka, seiring bertambahnya usia ikan, bercak hitam yang awalnya dianggap kotoran itu berevolusi menjadi titik-titik warna yang sangat menarik. Perpaduan tiga warna tersebut ternyata menciptakan kontras visual yang luar biasa indah di dalam kolam.
Secara catatan sejarah, awal mula pasti diketemukannya Sanke memang tidak diketahui secara mutlak, namun varietas tiga warna ini mulai terlihat kehadirannya pada pertengahan Era Meiji, yaitu sekitar tahun 1900-an. Pada masa awal kemunculannya, kombinasi warna merah, putih, dan hitam pada Sanke masih tampak terpisah-pisah dan tidak menyatu seindah sekarang.
Langkah besar dalam sejarah Sanke kemudian dicetak oleh Eizaburo Hoshino dari daerah Takezawa. Ialah tokoh yang tercatat pertama kali membudidayakan dan menyempurnakan Sanke secara serius, memilih indukan unggul agar corak tiga warna ini menjadi lebih rapi dan stabil.
Mendapat Nama Kebesaran Kaisar Hasil dedikasi para pembudidaya ini berbuah manis. Sanke berkembang menjadi varietas yang sangat digemari dan mencapai puncak popularitasnya pada rentang tahun 1912 hingga 1926. Sebagai bentuk penghormatan, varietas ini kemudian diberi nama Taisho Sanshoku, di mana kata "Taisho" diambil dari nama Kaisar Jepang yang berkuasa pada era tersebut, sedangkan "Sanshoku" berarti "tiga warna".
Saat ini, seekor Sanke dinilai kualitasnya layaknya sebuah lukisan alam. Syarat utamanya adalah:
- Memiliki dasar kulit warna putih yang seputih salju (snow white), dipadukan dengan pola merah yang pekat mengikuti aturan Kohaku.
- Bercak hitam (sumi) pada Sanke umumnya bersifat minor (tidak mendominasi) dan penempatannya yang ideal adalah di atas warna putih (Tsubo Sumi).
- Selain itu, tidak seperti Showa, Sanke yang anggun memiliki ciri khas berupa wajah yang terbebas dari warna hitam, serta sirip dada yang dihiasi dua atau tiga garis hitam elegan yang disebut Tejima.
Dari seekor ikan mutasi yang dulunya dihindari dan dimusnahkan, Sanke telah membuktikan bahwa keindahan sejati seringkali bersembunyi di balik hal yang dianggap tidak sempurna. Mahakarya tiga warna ini kini berdiri sejajar di kasta tertinggi klasifikasi Koi Gosanke bersama Kohaku dan Showa.
Bagaimana dengan showa?
BalasHapus